Purwokerto, Mahasiswa dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong penguatan keberagaman budaya dan pembangunan berkelanjutan di kawasan Asia. Hal ini disampaikan dalam Eurasia International Public Lecture Series 2026 di Universitas Jenderal Soedirman.
Narasumber dari Universitas Pendidikan Indonesia Dr. Susi Widianti, M.Pd, M.A dalam kuliah umum tersebut menegaskan bahwa, “generasi muda harus memiliki kesiapan tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga kemampuan sosial dan budaya,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, kemampuan berbahasa asing saja tidak cukup tanpa diimbangi dengan pemahaman nilai dan norma budaya masyarakat lain. Keduanya harus berjalan beriringan untuk menciptakan komunikasi yang efektif.
Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, berpikiran terbuka, serta mampu menerima perbedaan sebagai bagian dari dinamika global.
Ia mengatakan, “dalam proses adaptasi antarbudaya, individu akan melalui beberapa tahapan, mulai dari fase penyesuaian hingga mampu berinteraksi secara nyaman di lingkungan baru,” jelasnya.
Dr. Susi juga menekankan pentingnya sikap asertif yang tetap menghargai budaya lain, sehingga komunikasi dapat berlangsung tanpa menimbulkan konflik.
Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan global serta memperkuat kesiapan menghadapi dunia internasional.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi individu yang kompeten, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dalam membangun masyarakat Asia yang inklusif dan berkelanjutan.
