Purwokerto, 6 Juli 2026 — Pusat Biodiversitas dan Maritim LPPM Universitas Jenderal Soedirman bekerja sama dengan Reef Check Indonesia menyelenggarakan Workshop dan Sertifikasi Monitoring Terumbu Karang dan Isu Perubahan Iklim Global dengan tema “Tropical Coral Reef and Climate Change: Global Challenges and Future Solutions.”

 

Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Sekretaris LPPM Universitas Jenderal Soedirman, Dr. Sri Wahyu Handayani, S.H., M.H., yang hadir mewakili Kepala LPPM Unsoed, Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyanti, M.P., IPU., ASEAN Eng. Dalam sambutannya, Dr. Sri Wahyu Handayani menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen LPPM Unsoed dalam memperkuat kapasitas akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di bidang konservasi ekosistem laut, khususnya terumbu karang. Kegiatan ini juga diharapkan dapat memperluas kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga konservasi, peneliti, dan masyarakat dalam mendukung perlindungan ekosistem terumbu karang yang berkelanjutan.

Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari Reef Check Indonesia, yaitu Derta Prabuning, S.Kel., M.Si., bersama tim Reef Check Indonesia. Workshop diikuti oleh sekitar 50 peserta yang terdiri atas dosen, peneliti, mahasiswa, dan peserta yang memiliki perhatian terhadap isu konservasi ekosistem terumbu karang dan perubahan iklim.

 

Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan penguatan pemahaman mengenai tantangan global yang dihadapi terumbu karang, terutama akibat perubahan iklim, pemanasan laut, pemutihan karang, pencemaran, tekanan perikanan, dan pembangunan pesisir. Materi dari Reef Check Indonesia menekankan bahwa terumbu karang saat ini menghadapi tekanan ganda, yaitu tekanan global seperti kenaikan suhu laut dan pengasaman laut, serta tekanan lokal seperti polusi, penangkapan ikan berlebih, dan degradasi habitat pesisir.

 

Salah satu fokus penting dalam workshop adalah pengenalan konsep Climate Refugee Reefs, yaitu terumbu karang yang memiliki peluang lebih besar untuk bertahan di tengah perubahan iklim, sekaligus berpotensi menjadi sumber pemulihan bagi kawasan terumbu karang di sekitarnya. Pendekatan ini menekankan pentingnya mengidentifikasi dan melindungi kawasan terumbu karang yang memiliki tingkat paparan perubahan iklim lebih rendah, kondisi ekologi yang baik, serta konektivitas yang mampu mendukung regenerasi terumbu karang di masa depan.

 

Dalam paparannya, Derta Prabuning menyampaikan bahwa perubahan iklim telah mengubah cara pandang terhadap konservasi terumbu karang. “Kini kita tidak lagi hanya berfokus pada terumbu karang yang masih indah, tetapi juga pada kawasan yang memiliki peluang terbaik untuk bertahan menghadapi perubahan iklim dan menjadi sumber pemulihan bagi terumbu karang di masa depan. Melalui kegiatan ini, kami berharap semakin banyak akademisi, mahasiswa, dan masyarakat yang dapat mengakses pengetahuan secara terbuka serta berkontribusi dalam aksi konservasi berbasis sains,” ujarnya.

 

Selain sesi materi dan diskusi, peserta juga mengikuti pelatihan Coral Reef Rescue E-learning. Program pembelajaran daring ini dapat diakses secara gratis, mandiri, dan terbuka untuk umum. Platform ini dikembangkan untuk memperkuat kapasitas praktisi, akademisi, dan pengelola kawasan konservasi dalam mendukung konservasi terumbu karang berketahanan iklim.

 

Peserta juga diperkenalkan dengan Coral Reef Rescue Portal, sebuah pusat pengetahuan digital yang menyediakan berbagai referensi mengenai konservasi terumbu karang berketahanan iklim. Portal ini memuat publikasi ilmiah, panduan teknis, studi kasus, perangkat pendukung pengambilan keputusan, serta berbagai sumber informasi yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, organisasi masyarakat sipil, maupun masyarakat umum. Kehadiran portal ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dan pertukaran pengetahuan antar pemangku kepentingan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim terhadap ekosistem terumbu karang.

 

Kepala Pusat Biodiversitas dan Maritim LPPM Unsoed, Dr. rer. nat. Riyanti, S.T., M.Biotech, menyampaikan bahwa kegiatan ini penting untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung konservasi terumbu karang berbasis ilmu pengetahuan. Kolaborasi dengan Reef Check Indonesia diharapkan dapat memperluas pemahaman peserta mengenai pemantauan terumbu karang, risiko perubahan iklim, serta strategi perlindungan kawasan terumbu yang berperan penting bagi masa depan keanekaragaman hayati laut.

 

Melalui workshop dan pelatihan ini, Pusat Biodiversitas dan Maritim LPPM Unsoed bersama Reef Check Indonesia mendorong semakin banyak pihak untuk terlibat dalam upaya perlindungan terumbu karang. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta untuk mendukung penelitian, pemantauan, edukasi, serta aksi konservasi yang lebih terarah, kolaboratif, dan berbasis bukti ilmiah.

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Proyek GEF-7 Coral Reef Rescue di Indonesia yang dilaksanakan melalui kolaborasi Reef Check Indonesia dengan Direktorat Konservasi Ekosistem, Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Secara global, proyek ini didanai oleh Global Environment Facility (GEF), diimplementasikan melalui World Wildlife Fund (WWF) sebagai GEF Implementing Agency, dan dipimpin oleh The University of Queensland sebagai Lead Executing Agency.

By Indra K