Purwokerto – Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian UNSOED bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pengembangan Kawasan Ekspor Gula Kelapa Melalui Pemberdayaan Masyarakat Desa”. Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 15 Juni 2026 ini di Ballroom Integrated Academic Building (IAB) UNSOED.

Kegiatan ini merupakan langkah strategis awal dalam upaya merumuskan model pengembangan kawasan ekspor gula kelapa yang terintegrasi dan berbasis pemberdayaan masyarakat. Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di dunia, dan Kecamatan Cilongok selama ini menjadi salah satu sentra produksi gula kelapa yang telah berkembang secara turun-temurun. Permintaan pasar terhadap produk gula kelapa organik dan berkelanjutan terus meningkat, baik di tingkat domestik maupun internasional, sehingga diperlukan pendekatan pengembangan yang lebih terencana dan kolaboratif.

Kegiatan dibuka dengan sambutan Asisten Deputi Ketahanan Desa dan Perdesaan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Ibu Diah Kusuma Pitasari, S.P., M.M. dan Rektor UNSOED yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Ir. Noor Farid, MSi. FGD digelar secara pleno di Universitas Jenderal Soedirman dengan melakukan pemaparan dan diskusi mendalam terkait tiga program pilot prioritas, yaitu: (1) Pilot Integrated Farming yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan; (2) Pilot Agroforestry Kelapa Genjah yang mendorong diversifikasi dan ketahanan ekosistem; serta (3) Pilot Model Pemberdayaan Koperasi sebagai fondasi kelembagaan ekonomi masyarakat.

Staf Khusus Kemenko Pemberdayaan Masyarakat, Muh Arif Ruba’i, dalam paparannya menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan kawasan ekspor gula kelapa yang berdaya saing. “Pengembangan kawasan ini tidak bisa berdiri sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, koperasi, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya. UNSOED hadir bukan hanya sebagai tuan rumah, tetapi juga sebagai mitra akademik yang turut memberikan kontribusi dalam aspek riset, pendampingan teknis, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia.

Kegiatan ini juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan lainnya, di antaranya Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM UNSOED), BPJS Ketenagakerjaan, Village on Mars, Koperasi produsen komoditas unggulan lokal, serta dinas dan lembaga pemerintahan terkait di Kabupaten Banyumas seperti Dinas Dinas Koperasi, Usaha Kecil Dan Menengah dan Perdagangan, Dinas Pertanian, dan Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian. Dialog multipihak yang terjalin dalam FGD ini menghasilkan rumusan awal tiga konsep pilot project, identifikasi kebutuhan dukungan dan kolaborasi antar-stakeholder, sebagai acuan dalam penyusunan Blueprint pengembangan kawasan gula kelapa terintegrasi.

Melalui kolaborasi erat antara Fakultas Pertanian, LPPM UNSOED, Kemenko Pemmas, dan seluruh mitra strategis, pengembangan kawasan ekspor gula kelapa di Cilongok diharapkan menjadi model percontohan nasional yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis pemberdayaan masyarakat desa.

By Indra K