Bali, 23 Juni 2026 — Pusat Biodiversitas dan Maritim, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, berpartisipasi dalam Lokakarya Identifikasi Kajian Ilmiah Kelautan di Kawasan Lepas Pantai Selatan Jawa–Bali–Nusa Tenggara Timur yang berlangsung pada 22–23 Juni 2026 di Bali.
Lokakarya yang diselenggarakan oleh Direktorat Konservasi Ekosistem Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama WWF Indonesia tersebut menjadi forum kolaborasi antara pemerintah, akademisi, lembaga riset, pemerintah daerah, asosiasi perikanan, dan organisasi konservasi. Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat dasar ilmiah pengembangan Large-Scale Marine Protected Area atau LSMPA dalam mendukung target perlindungan 30 persen wilayah perairan Indonesia pada 2045.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari WWF Indonesia dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali. Arah kebijakan disampaikan oleh Direktorat Perencanaan Ruang Perairan dan Direktorat Konservasi Ekosistem KKP, terutama mengenai integrasi LSMPA dalam tata ruang laut serta perluasan kawasan konservasi sebagai bagian dari kebijakan ekonomi biru.
Pembahasan ilmiah mencakup oseanografi dan dinamika laut dalam, biodiversitas, perikanan industri, serta sosial-ekonomi dan tata kelola. Prof. Dr. A’an Johan Wahyudi dari BRIN memaparkan bahwa perairan Selatan Jawa merupakan sistem yang dinamis, dipengaruhi oleh Arus Lintas Indonesia, monsun, upwelling, ENSO, dan Indian Ocean Dipole. Kondisi tersebut menuntut desain kawasan konservasi yang mempertimbangkan proses oseanografi, produktivitas, konektivitas habitat, dan pergerakan spesies.
Dr. Charles P.H. Simanjuntak dari IPB University menyoroti pentingnya kajian larva ikan, daerah pemijahan, daerah asuhan, dan jalur migrasi. Sementara itu, Andina Ramadhani Putri Pane memaparkan potensi biodiversitas laut dalam Selatan Jawa dan Palung Jawa yang masih memerlukan eksplorasi lebih luas serta pemantauan berkelanjutan.
Pada tema perikanan, Prof. Dr. Indra Jaya, Prof. Alexander M.A. Khan, dan Dr. Tegoeh Noegroho membahas status stok tuna, distribusi armada, wilayah penangkapan, penggunaan rumpon, tangkapan sampingan, serta kebutuhan peningkatan kualitas data perikanan. Maulana Firdaus melengkapi pembahasan dengan menekankan pentingnya aspek penghidupan nelayan, ketahanan pangan, nilai ekonomi, dan legitimasi sosial dalam pengelolaan kawasan konservasi.
Dalam forum tersebut, Pusat Biodiversitas dan Maritim Unsoed mendorong agar data oseanografi, biodiversitas, perikanan, dan sosial-ekonomi tidak dianalisis secara terpisah. Integrasi berbagai bidang tersebut diperlukan untuk mengidentifikasi hotspot ekologis, habitat kritis, koridor migrasi, tekanan pemanfaatan sumber daya, serta dampak kebijakan terhadap masyarakat pesisir.
“Pengembangan kawasan konservasi laut lepas harus didukung oleh riset multidisiplin dan data lintas institusi. Pusat Biodiversitas dan Maritim siap mengambil bagian dalam penguatan jejaring penelitian, integrasi data, pemetaan biodiversitas, dan penyusunan rekomendasi ilmiah untuk mendukung kebijakan konservasi,” ujar Dr. rer.nat. Riyanti, S.T, M.Biotech, Kepala Pusat Biodiversitas dan Maritim LPPM Unsoed.
Partisipasi dalam kegiatan ini memperluas peluang kerja sama Pusat Biodiversitas dan Maritim dengan kementerian, lembaga riset, perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta mitra konservasi. Kolaborasi tersebut dapat dikembangkan dalam bentuk survei bersama, pemetaan habitat, pemodelan konektivitas laut, pengembangan basis data, serta pemantauan jangka panjang terhadap kondisi ekosistem dan biodiversitas.
Lokakarya diharapkan menghasilkan sintesis data ilmiah, analisis kesenjangan informasi, rekomendasi kajian prioritas, identifikasi hotspot ekologis, peta kesesuaian kawasan, dan mekanisme integrasi data lintas institusi.
Melalui keterlibatan ini, Pusat Biodiversitas dan Maritim menegaskan komitmennya untuk menjembatani riset akademik dengan kebutuhan kebijakan serta memperkuat kontribusi Unsoed terhadap konservasi biodiversitas, pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan, dan pembangunan ekonomi biru Indonesia.


