{"id":4303,"date":"2026-09-28T02:40:32","date_gmt":"2026-09-28T02:40:32","guid":{"rendered":"https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/?p=4303"},"modified":"2026-09-28T02:40:32","modified_gmt":"2026-09-28T02:40:32","slug":"lppm-unsoed-dorong-tata-kelola-tambang-emas-rakyat-berkelanjutan-melalui-seminar-good-mining-practice","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/?p=4303","title":{"rendered":"LPPM Unsoed Dorong Tata Kelola Tambang Emas Rakyat Berkelanjutan melalui Seminar Good Mining Practice"},"content":{"rendered":"<p><strong>Purwokerto, 24 September 2026 \u2013 <\/strong>Pusat Studi Mineral, Energi, dan Teknologi Pertambangan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menyelenggarakan Seminar Pertambangan Emas Rakyat bertema <em>\u201cGood Mining Practice dalam Pengelolaan dan Penataan Kawasan Tambang Emas Rakyat\u201d<\/em> pada Kamis (24\/9\/2026) di Ballroom Integrated Academic Building (IAB) lantai 5, Kampus Unsoed, Purwokerto.<\/p>\n<p>Seminar diikuti oleh lebih dari 50 peserta dari unsur pemerintah daerah dan perguruan tinggi, antara lain perwakilan instansi bidang energi dan sumber daya mineral (ESDM) dari Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, dan Kabupaten Banjarnegara; Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas; perwakilan Pemerintah Kabupaten Banyumas; serta sivitas akademika di lingkungan Unsoed. Plt. Rektor Unsoed, Prof. Dr. Ali Rokhman, M.Si., dalam kesempatan ini diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Roy Andreas, S.Si., M.Si., Ph.D., serta Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat, Prof. Dr. Eko Suyono, S.E., M.Si., Ak., CA., CPA. Seminar dibuka secara resmi oleh Ketua LPPM Unsoed, Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyanti, M.P., IPU., ASEAN Eng., bersama Kepala Pusat Studi Mineral, Energi, dan Teknologi Pertambangan, Ir. Mochamad Aziz, S.T., M.T.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-4305\" src=\"https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/2-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"200\" srcset=\"https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/2-300x200.jpg 300w, https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/2-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/2-768x512.jpg 768w, https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/2.jpg 1371w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>Pertambangan emas rakyat menjadi sumber penghidupan bagi banyak warga di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di kawasan Banyumas Raya. Di sisi lain, praktik penambangan yang belum tertata, terutama penggunaan merkuri dalam pengolahan bijih emas, menimbulkan risiko bagi kesehatan penambang, masyarakat sekitar, dan kualitas lingkungan. Seminar ini digelar sebagai ruang temu antara akademisi, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan penambang untuk merumuskan praktik pertambangan yang baik <em>(good mining practice) <\/em>yang aman, legal, dan berkelanjutan.<\/p>\n<p><strong>Empat Narasumber, Empat Sudut Pandang<\/strong><\/p>\n<p>Seminar menghadirkan empat narasumber dari kalangan industri, akademisi, dan pelaku pertambangan rakyat:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Elwin Elbur<\/strong> (Senior Manager Eksplorasi Unit Geomin PT Antam) \u2013 eksplorasi dan prospek sumber daya emas;<\/li>\n<li><strong> Ir. Siti Khodijah Chaerun, M.T., Ph.D.<\/strong> \u2013 teknologi biometalurgi sebagai alternatif pengolahan emas tanpa merkuri;<\/li>\n<li><strong>Deni Suseno, S.Pd.<\/strong> (Koperasi Hargo Makmur Mineral Indonesia) \u2013 pengelolaan limbah merkuri dari tambang emas untuk lingkungan yang lebih bersih dan masa depan yang lebih baik;<\/li>\n<li><strong> Dr. Icuk Rangga Bawono, S.H., S.E., M.Si., M.H., Ak.<\/strong> \u2013 perencanaan bisnis dan manajemen keuangan tambang emas rakyat.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Diskusi dipandu oleh Ani Haryati, S.I.K., M.Si. (Sesi 1) dan Maulana Rizki Aditama, S.Si., M.Sc., Ph.D. (Sesi 2), dosen Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik Unsoed.<\/p>\n<p><strong>Tinggalkan Merkuri, Beralih ke Biometalurgi<\/strong><\/p>\n<p>Dalam paparannya, Prof. Siti Khodijah Chaerun menegaskan bahwa penggunaan merkuri dalam penambangan dan pengolahan emas harus ditinggalkan. Selain dilarang, merkuri bersifat toksik, persisten, dan dapat terakumulasi dalam rantai makanan sehingga dampaknya dirasakan jauh melampaui lokasi tambang. Sebagai gantinya, ia mendorong penerapan biometalurgi, yaitu pemanfaatan mikroorganisme untuk membantu melepaskan dan memisahkan logam dari bijih. Pendekatan ini telah dibuktikan secara ilmiah lebih aman dan lebih ramah lingkungan, serta berpotensi diadaptasi pada skala pertambangan rakyat melalui pendampingan teknis dan alih teknologi dari perguruan tinggi. Pandangan tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia yang telah meratifikasi Konvensi Minamata tentang Merkuri melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2017, serta menetapkan Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri melalui Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2019, yang menempatkan pertambangan emas skala kecil sebagai salah satu bidang prioritas.<\/p>\n<p><strong>Belajar dari Hargotirto<\/strong><\/p>\n<p>Sementara itu, Deni Suseno memaparkan pengalaman penataan pertambangan emas rakyat di Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurutnya, kunci penataan terletak pada kepastian regulasi, mulai dari penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) hingga penerbitan Izin Pertambangan Rakyat (IPR), yang dibarengi dengan penguatan kelembagaan penambang melalui koperasi serta upaya pengelolaan limbah merkuri secara bertanggung jawab. Pengalaman Hargotirto dinilai dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menata pertambangan emas rakyat agar legal, tertib, dan berwawasan lingkungan. Paparan tersebut dilengkapi oleh Elwin Elbur yang membahas eksplorasi dan prospek sumber daya emas sebagai dasar perencanaan kegiatan penambangan, serta Prof. Icuk Rangga Bawono yang menekankan pentingnya perencanaan bisnis dan tata kelola keuangan agar usaha tambang emas rakyat layak secara ekonomi dan berkelanjutan.<\/p>\n<p><strong>Menuju Rekomendasi Kebijakan<\/strong><\/p>\n<p>Hasil paparan dan diskusi dalam seminar ini akan dihimpun oleh Pusat Studi Mineral, Energi, dan Teknologi Pertambangan LPPM Unsoed menjadi laporan tindak lanjut sekaligus naskah rekomendasi kebijakan (<em>policy brief<\/em>) pertambangan emas rakyat berkelanjutan. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat menjadi acuan praktis bagi penambang, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan, antara lain dalam hal:<\/p>\n<ol>\n<li>penghentian penggunaan merkuri dan alih teknologi ke metode pengolahan yang lebih aman, seperti biometalurgi;<\/li>\n<li>percepatan legalitas kegiatan melalui penetapan WPR dan penerbitan IPR;<\/li>\n<li>penguatan kelembagaan penambang melalui koperasi dan kemitraan;<\/li>\n<li>pengelolaan limbah, keselamatan kerja, serta reklamasi dan pemulihan lahan pascatambang;<\/li>\n<li>perencanaan usaha dan tata kelola keuangan yang sehat bagi penambang rakyat.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Melalui kegiatan ini, LPPM Unsoed menegaskan peran perguruan tinggi sebagai mitra pemerintah dan masyarakat dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan. Upaya ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya kehidupan sehat dan sejahtera (SDG 3), pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8), serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDG 12).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Purwokerto, 24 September 2026 \u2013 Pusat Studi Mineral, Energi, dan Teknologi Pertambangan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menyelenggarakan Seminar Pertambangan Emas Rakyat bertema \u201cGood Mining Practice dalam Pengelolaan dan Penataan Kawasan Tambang Emas Rakyat\u201d pada Kamis (24\/9\/2026) di Ballroom Integrated Academic Building (IAB) lantai 5, Kampus Unsoed, Purwokerto. Seminar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":4304,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0,"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-4303","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4303","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4303"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4303\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4306,"href":"https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4303\/revisions\/4306"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4304"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4303"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4303"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lppm.unsoed.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4303"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}